Kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19) oleh Ahmad Imam Al-Hafitd
(19), dan Assyifa alias Sifa (19), menarik perhatian banyak pihak. Tak
disangka mantan kekasih dan teman SMA tega melakukan perbuatan ini.
Para
pelaku yang termasuk sebagai orang berpendidikan tega melakukan hal
sekeji itu. Pelajaran penting apa yang bisa diambil dari kasus ini? Para
psikolog menilai salah satu penyebab para pelaku melakukan hal keji
tersebut karena tidak dapat mengontrol diri. Kurangnya pendidikan
emosional membuat mereka tidak dapat mengontrol emosi dan nekat
melakukan apapun yang terlintas di dalam otak mereka.
"Kemungkinan
besar kecerdasan emosionalnya rendah. Kalau mereka berpendidikan belum
tentu kecerdasan emosionalnya bagus, tidak sebanding dengan kecerdasan
akademiknya. Kecerdasan kognitif tidak sebanding dengan kecerdasan
emosional," jelas Ratih Zulhaqqi. M.Psi. psikolog anak dan remaja, saat
dihubungi detikHealth pada Jumat (7/3/2014).
Ia juga berpendapat
kemungkinan pelaku memiliki moral judgment yang buruk, sehingga bisa
melakukan tindakan yang keji seperti itu. Karena keputusan untuk
merampas hak hidup orang lain merupakan keputusan yang besar, sehingga
dengan moral judgment yang buruk pelaku bisa dengan mudahnya melakukan
hal tersebut. Dalam kasus ini ia melihat bahwa pelaku dikuasai emosi
saat melakukan perbuatan tersebut.
Hal senada disampaikan
psikolog Dr Rose Mini M.Psi. Ia juga berpendapat bahwa orang yang
berpendidikan belum tentu memiliki kontrol diri yang baik. "Orang
berpendidikan belum tentu kontrol dirinya bagus. Kalau masih anak-anak
kan pengalaman hidupnya masih kecil, jadi kalau ada masalah dia tidak
tahu bahwa ada jalan keluar lain yang lebih baik. Nah yang jadi korban
ini tidak punya daya, lemah, makanya bisa disakiti," kata psikolog yang
bisa disapa Bunda Romi ini.
Sekarang ini orang tua hanya
mengajarkan kecerdasan akademik saja kepada anak-anak, tetapi mereka
melupakan emosional anak. Padahal kecerdasan emosional juga tidak kalah
pentingnya dengan kecerdasan akademis anak. Karena dengan pendidikan
setinggi apapun, jika tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional, tidak
akan membuat anak menjadi lebih baik.
Hafitd dan Sifa membunuh
Sara di dalam mobil Kia Visto. Pasangan sejoli itu telah merencanakan
aksi pembunuhan korban itu satu minggu sebelum korban dieksekusi di
Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (4/3) malam lalu. Hafitd
sendiri merencanakan pembunuhan terhadap Sara karena sakit hati, korban
tidak mau dihubungi lagi setelah putus. Sedangkan Sifa terlibat dalam
pembunuhan itu karena cemburu pada Sara. Dia khawatir kekasihnya akan
kembali ke pelukan Sara.
Di dalam mobil, mulanya mereka mengobrol
biasa. Namun kemudian terjadi percekcokan saat Sara ditanya kenapa dia
tidak mau dihubungi oleh Hafitd. Hafitd kemudian memukul Sara dan juga
menyetrumnya dengan alat setrum hingga Sara mengerang kesakitan.
Setruman Hafitd yang berkali-kali membuat Sara lemas hingga pingsan.
Sifa membantu Hafitd memegangi korban dan menyumpal mulut Sara dengan
koran setelah pingsan.
Berdasarkan hasil autopsi, sumpalan koran
di mulut Sifa-lah yang mengakibatkan mahasiswi Universitas Bunda Mulia
(UBM) itu tewas. Setelah mengetahui korban tewas, kedua pelaku lalu
membuang mayat korban di pinggir tol di Bekasi.
(MN/Detik/Adisti Lenggogeni/vit/vit)
Pebelajaran Kasus Pembunuhan Sara yang Dilakukan Sepasang Kekasih
Related Articles
Kalau kamu suka artikel DMY Official Klik Disini, atau berlangganan untuk menerima konten yang lebih besar persis seperti itu.

0 comments:
Post a Comment