Gunung Kelud meletus pada Kamis (13/2) malam kemarin. Apakah
meletusnya Gunung Kelud itu berhubungan dengan Gempa Kebumen 6,2 Skala
Richter pada 25 Januari 2014 lalu?"Jadi gunung berapi itu terbentuk dari tunjaman lempeng samudera ke lempeng benua. Mekanismen pembentukan gunung api itu memang akibat pergerakan lempeng. Ini sudah menjadi pengetahuan vulkanologi secara umum," kata Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari ketika dihubungi detikcom, Jumat (14/2).
Secara genetik, imbuhnya, gunung api terbentuk dari lempeng tektonik itu, lempeng samudera mendesak lempeng benua, menjadi gunung kemudian material dan lelehannya membentuk magma.
"Bisa jadi ada hubungannya, namun apakah gempa tertentu menyebabkan gunung erupsi, selang waktunya tidak diketahui berapa lama, tidak tahu kapan terjadi. Kalau mekanisme terbentuknya, bisa jadi berhubungan," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) mencatat pergerakan di Gunung Kelud berupa tremor alis gempa-gempa kecil baik dangkal dan dalam mulai pada 15 Januari 2014 setelah terakhir meletus 4 November 2007.
Pasca gempa bumi Kebumen pada 25 Januari 2014, PVMBG mencatat pada 27 Januari 2014 gempa vulkanik dangkal teramati meningkat signifikan dalam kisaran 13-90 kejadian per hari atau rata-rata 37 kejadian/hari hingga akhirnya makin meningkat dan mencapai puncaknya pada Kamis (13/2/2014) malam.
Dalam arsip detikcom, ada gempa di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada Senin 25 Oktober 2010 lalu dengan kekuatan 7,2 skala richter (SR). Sehari kemudian disusul Gunung Merapi meletus dan 8 gunung berapi di Sumatera-Jawa terpantau meningkat aktivitasnya.
Deputi Kepala Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPK LIPI) Prof Dr Hery Harjono saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (30/10/2010) mencontohkan dalam sejarahnya, gempa Chili tahun 1960-an dengan skala 9 SR diikuti aktivitas vulkanik di Chili. Gempa Landers di California yang kemudian diikuti peningkatan aktivitas beberapa pusat vulkanik.
Kemudian gempa Liwa di Lampung pada 1932 diikuti meningkatnya aktivitas vulkanik di dataran Suoh (dataran di Lampung Barat yang memiliki potensi panas bumi dan semburan air panas). Hal ini berlanjut pada gempa Liwa tahun 1994, juga diikuti meningkatnya aktivitas vulkanik di Suoh.
Ada juga gempa Nias pada tahun 2005, beberapa waktu kemudian diikuti peningkatan aktivitas Gunung Talang.
"Ada beberapa orang yang mencoba (mengukur) secara statistik. Dari jaraknya, tidak harus kurang dari 700 (km) atau kurang dari 1.000 (Km). Gempa harus lebih 7 (SR) dan sebagainya. Kalau jaraknya kurang dari 700 km dari Mentawai kelihatannya ada kaitannya dengan Krakatau. Saya nggak punya data, biasanya paling terlihat ketika gempa," imbuh Hery.
Mencari kaitan antara gempa atau pergerakan lempeng tektonik dan peningkatan aktivitas vulkanik gunung berapi tak semudah membalik telapak tangan. Banyak faktornya. Salah satunya melihat siklus gunung berapi.
"Persoalannya, tiap gunung punya aktivitas atau siklusnya sendiri. Kita harus tahu siklusnya Krakatau, apakah aktivitasnya dipicu oleh gempa, atau memicu gempa. Seperti Gunung Pinatubo di Filipina yang mengeluarkan letupan dahsyat (1991). Gunungnya sudah tidur lama, tapi ada gempa Luzon 11 bulan sebelumnya (1990)," jelas pakar yang disertasinya tentang mikroseismik dan pengaruhnya bagi aktivitas gunung berapi di Selat Sunda ini.
Hery menjelaskan, ketika ada gempa tektonik di satu pusat gempa, maka gempa ini mengirimkan gelombang seismik ke segala arah di penjuru dunia. Jika jaraknya makin jauh, maka makin lemah gelombang yang diterimanya. Di satu sisi satu gunung berapi mempunyai reservoir magma.
"Ibaratkan saja reservoir magma itu kantong plastik, kemudian ada tekanan yang diberikan gelombang gempa. Kantong plastiknya ditekan-tekan terus, magma naik penuh, atau magma baru naik setengahnya dan lambat? Tergantung plastiknya, penuh atau tidak, kalau penuh cepat keluar," jelasnya.
Persoalannya, masih diperdebatkan apakah akibat tekanan gempa itu efeknya langsung atau cukup lama? Seketika seperti Krakatau atau makan waktu setahun seperti Gunung Pinatubo?
"Jadi diduga ada hubungan antara gempa tektonik dengan skala lebih besar dari 7 atau 6 (SR), timbul aktivitas gunung api," papar dia.
Dalam disertasi Hery, ditemukan di bawah Gunung Krakatau ada kantong-kantong magma pada kedalaman 3-9 km. Pada kedalaman lebih dari 20 km ada reservoir magma yang lebih besar yang bisa menyalurkan magma pada reservoir di atasnya.
"Jadi saya pikir apakah reservoir magma sudah penuh, hingga ditekan sedikit sudah muncul? Misalnya reservoirnya cuma setengah plastik, ketika ditekan nggak naik juga? Saya berharap ada yang meng-update riset saya itu," harap Hery yang meraih gelar doktor geofisika dari Universitas Paris XI Prancis ini. (MN/Detik)
0 comments:
Post a Comment